KEPALA SEKOLAH SMA BUDI MURNI-1 : DRA. R. ISTI BANDARANI

Selamat Datang di Blog khusus ini.
Blog ini kami siapkan untuk tempat berbagi pengalaman dan sharing berbagai hal demi kemajuan dan kejayaan SMA Budi Murni - 1 Medan.
Saran dan Kritik yang membangun
tentu sangat kami harapkan...terlebih saran-saran dan kritik yang membangun.
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2009

Peringkat HDI Indonesia

Human Development Index
UNDP pernah mengumumkan, kalau peringkat HDI Indonesia berada di peringkat 112 dari 175 negara. Jauh di bawah negara --negara tetangga kita sekalipun semisal Malaysia, Singapore, Thailand dan Filipina.


Malaysia misalnya, negara jiran yang dulu pernah bersekolah di Indonesia itu menempati peringkat 58, jauh di atas Indonesia yang dulu pernah menjadi gurunya. Thailand berada di peringkat 74; sementara Filipina di peringkat 85.

Mutu Manusia
Pada dasarnya HDI merupakan satuan yang dikembangkan oleh UNDP untuk mengukur keberhasilan pembangunan pada suatu negara. HDI merupakan suatu angka yang diolah berdasarkan tiga dimensi sekaligus; masing-masing adalah panjang usia (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup (standard of living) suatu bangsa. Secara teknis ketiga dimensi ini dijabarkan menjadi beberapa indikator, yaitu kesehatan dan kependudukan, pendidikan serta ekonomi.

Indikator kesehatan menyangkut angka kematian bayi (infant mortality rate), angka kematian balita (under-five mortality rate), dsb. Indikator kependudukan menyangkut usia harapan hidup (life expectancy), penduduk yang tak mempunyai harapan hidup sampai usia 60 tahun (people not expected to survive to age 60), dsb. Indikator pendidikan menyangkut angka melek huruf (literacy rate), anak yang berpendidikan sampai kelas lima sekolah dasar (children reaching grade 5), angka partisipasi pendidikan (enrollment ratio), dsb. Sedangkan indikator ekonomi antara lain menyangkut indeks kemiskinan (poverty index).

Berdasarkan indikator-indikator tersebut jelaslah HDI merupakan ukuran keberhasilan (atau kegagalan) pembangunan kesehatan dan kependudukan, pendidikan, serta ekonomi pada suatu bangsa. Implikasinya HDI yang tinggi menunjukkan keberhasilan pembangunan kesehatan, kependudukan, pendidikan dan ekonomi di suatu negara; sebaliknya HDI yang rendah menunjukkan pembangunan kesehatan, kependudukan, pendidikan dan ekonomi di suatu negara.

Selanjutnya penafsiran HDI sebagai indikator mutu manusia kiranya tidak terlalu salah sepanjang satuannya adalah bangsa atau manusia di negara tertentu, dan konteksnya terbatas pada kesehatan, kependudukan, pendidikan dan ekonomi. HDI bukanlah ukuran mutu manusia dalam satuan individu atau orang per orang.

Apakah publikasi UNDP yang mendudukkan Indonesia di peringkat 112 dari 175 negara untuk tahun 2003 menunjukkan bahwa mutu manusia Indonesia rendah? Untuk menjawab masalah ini perlu kita pelajari sistem publikasi UNDP itu sendiri. Dalam mempublikasi laporan tahunannya, UNDP mengklasifikasi negara-negara di dalam kelompok tinggi (high human development) dengan indeks di atas 0,800; kelompok menengah (medium human development) dengan indeks 0,501 sampai dengan 0,800; serta kelompok rendah (low human development) dengan indeks di bawah 0,500.

Indonesia dengan indeks 0,682 dimasukkan di dalam kelompok menengah, yaitu pada peringkat 112 dari 175 negara. Di kelompok menengah ini terdapat banyak negara tetangga kita seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Di luar itu ada Meksiko, Brasilia, Rusia, dan Cina. Di kelompok tinggi ada nama-nama Singapura, Norwegia, Eslandia, Australia, Jepang, Amerika Serikat (AS); sedangkan di kelompok rendah terdapat nama-nama Nepal, Bangladesh, Togo, Nigeria, Mauritania, Angola, dan Burundi.

Melihat data tersebut, prestasi Indonesia tidaklah terlalu buruk, setidak-tidaknya lebih baik dari negara-negara yang berada di kelompok rendah. Mutu manusia Indonesia sedang-sedang saja.
Mutu manusia Indonesia lebih baik dibanding Nepal, Bangladesh, Togo, Mauritania, Nigeria, dan Angola; tetapi lebih buruk dibanding Singapura, Norwegia, Eslandia, Australia, Jepang, dan AS.

Persoalannya ialah, mengapa mutu manusia Indonesia lebih rendah atau lebih buruk daripada Vietnam (109), Filipina (85), Thailand (74), Malaysia (58), dsb? Mengapa mutu manusia Indonesia berada jauh di bawah Brunei Darussalam (31), Singapura (28), dan Australia (11) yang ketiganya berada di kelompok tinggi? Mengapa mutu manusia Indonesia lebih rendah daripada kelompok manusia di sekitarnya?

Tiga Kata Kunci

Lebih buruknya mutu manusia Indonesia dibanding Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Australia harus kita akui untuk kemudian dapat kita jadikan alat pemicu dan pemacu untuk memperbaiki diri.

Ada tiga kata kunci untuk meningkatkan mutu kita; masing-masing adalah visi, komitmen, dan disiplin. Dalam hal visi kita bisa belajar dari Malaysia misalnya. Negeri Jiran yang satu ini semenjak pertengahan tahun '90-an sudah membuat visi yang dikenal dengan Malaysia 2020.
 

Pada pertengahan tahun '90-an pemerintah Malaysia sudah memiliki gambaran masyarakat Malaysia seperempat abad ke depan sehingga program-program pembangunan di negara tetangga itu difokuskan pada pencapaian visi. Siapapun yang berkuasa dan memimpin negeri akan selalu berpegang pada visi yang telah menjadi kesepakatan bangsa. Dengan demikian segala upaya di- sinergikan untuk mencapai visi.

Dalam hal komitmen kita bisa belajar dari Thailand misalnya. Ketika Thailand dan Indonesia sama-sama dibantai krisis pertengahan 1997 ternyata kedua negara benar-benar porak-poranda. Bangsa Thailand ternyata mempunyai komitmen yang kuat untuk mengakhiri krisis. Komitmen ini diimplementasi ke tingkat operasional.
 

Dalam hal disiplin kita dapat belajar dari Singapura. Negara yang mungil ini bisa menjadi maju dan menjadi pusat perhatian dunia karena kedisiplinan di berbagai bidang dijunjung tinggi.

Apakah kita telah memiliki visi, komitmen dan disiplin untuk lebih memajukan manusia Indonesia?
 

Apakah kita berani mengambil pelajaran dari publikasi UNDP tersebut untuk belajar dari negara-negara lain yang lebih maju, khususnya negara tetangga kita? Itu semua sangat tergantung kepada komitmen kita bersama.
 

 Jadi jika diliat dari uraian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa indikator disiplin belajar itu adalah :
1.Keuletan
2.Keyakinan
3.Semangat dan
4.Kepedulian


>keuletan : tanpa ini kita tidak bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas.
>Keyakinan : jika kita tidak yakin apa yang akan kita lakukan, untuk apakah kita belajar.
>semangat : tanpa semangat tidak akan ada rasa keinginan untuk belajar.
>Kepedulian : Belajar untuk kepentingan bersama dan tidak untuk kepentingan Individual semata.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menginspirasi kita semua.



Rabu, 28 Oktober 2009

Jadikan Dirimu Yang Terbaik

Hari Senin yang lalu , kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Bagaimana anak-anak, merasa senang dan bahagia dengan upacara tersebut?

Baiklah, anak-anak, kita harus mengisi kemerdekaan kita ini dengan hal-hal yang berguna. Hanya diri kitalah yang mampu mengisi kemerdekaan ini dan membangun bangsa dan negeri kita tercinta ini. Perjuangan kita masih panjang dan kita tidak boleh menyerah . Membangun bangsa dan negeri tercinta ini harus kita mulai dari diri kita sendiri. Tumbuhkan semangat dan raihlah cita-citamu setingi langit.

Ingat apa yang dikatakan oleh Bung Karno, Sang Proklamator Indonesia? Jangan tanyakan apa yang telah diberikan oleh Negara kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang telah kau berikan kepada Negara. Maka, isilah hari-harimu dengan sesuatu yang berguna bagi kemajuan dirimu dan bagi kemajuan bangsa dan negara.

Anak-anakku sekalian! Ibu ingin bercerita kepada kalian tentang seorang anak yang mengeluh, karena dia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang dia hadapi. Anak itu sambil menangis kembali ke rumah, dan bercerita pada ibunya. Anak itu bercerita kepada ibunya bagaimana ia merasa segala usahanya tidak dihiraukan baik oleh guru maupun teman-teman kelasnya. Ia telah berusaha, namun seakan-akan usahanya tidak layak dihargai. Ia menjadi benci akan teman-temannya. Ia pun jengkel melihat guru-gurunya.

Setelah mendengar keluhan anaknya, sang ibu bertanya: 'Pernahkan engkau memperhatikan kembang bakung milik tetangga di lorong jalan ke rumah kita?' Anak itu menggelengkan kepalanya, menjawab “ Mengapa, Bu. Aku memang tak pernah memperhatikannya. Lalu kata ibunya, 'Bakung itu berkembang setiap pagi, dan pada sore hari kembang bakung tersebut akan layu dan mati. Namun sebelum mati, ia telah memberikan yang terbaik, ia telah memancarkan keindahannya.' Anak itu terdiam sambil mendengarkan kata-kata ibunya dengan sepenuh hati.

Ibunya melanjutkan 'Setiap hari ia memberikan keindahan yang sama. Setiap hari ia memberikan keharuman yang sama walau kadang tak dihiraukan orang. Keindahannya tak pernah berkurang karena engkau tak pernah memperhatikannya. Ia tidak pernah bersedih bila tak diperhatikan orang, karena ia tahu bahwa dalam hidupnya ia cuma punya satu misi yakni memberikan keindahan.'

Anak itu memahami maksud ibunya, kalau dia harus terus menerus berupaya melakukan yang terbaik dan terindah dalam hidupnya, entah ada yang memperhatikan dia ataupun tidak.


Sekian dan Terima kasih.



Medan, 24 Agustus 2009
Kepala Sekolah Budi Murni – 1



Dra. R. Isti Bandarani.

Memaknai Proklamasi Kemerdekaan RI

17 Agustus 2009
Hari ini, kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Tanggal 17 Agustus, adalah hari yang paling bersejarah, karena pada tanggal 17 Agustus 1945, 64 tahun yang lalu bangsa Indonesia telah memproklamasikan diri sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, setelah 350 tahun terbelenggu oleh penjajahan. Untuk itu, sebagai bangsa kita patut bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia.

Setiap kali memperingati Hari Kemerdekaan RI, rasa haru yang mendalam senantiasa meliputi kalbu dan sanubari kita, terlebih ketika kita mengenang detik-detik kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta, atas nama bangsa Indonesia, enam puluh empat tahun yang lalu.

Melalui perjuangan yang panjang, penderitaan, serta pengorbanan yang sangat besar baik harta maupun nyawa, akhirnya atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, bangsa Indonesia dapat meraih kemerdekaannya.
Oleh karena itu, setiap kali kita berada di Hari Peringatan Kemerdekaan Negara kita, kita sampaikan terima kasih yang tak terhingga dan rasa hormat yang setulus-tulusnya kepada semua pejuang kemerdekaan, para founding fathers, pendahulu-pendahulu kita, yang telah menghadap “Sang Khalik”. Sebagai bangsa yang menghormati para pahlawannya, selain penghargaan tinggi yang kita berikan, kita perlu berkomitmen bahwa selaku generasi penerus, kita akan melanjutkan perjuangannya untuk mewujudkan cita-cita proklamasi sebagaimana yang terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Usia 64 tahun bagi seorang manusia adalah usia yang sudah cukup matang, usia yang telah dipenuhi dengan berbagai pengalaman. Demikian pula untuk suatu bangsa, usia 64 tahun adalah suatu usia yang seharusnya sudah penuh kemapanan, karena telah dapat melampauinya melalui berbagai rintangan, hambatan dan sekaligus tantangan.

Kita harus mampu mengangkat kebesaran dan hikmah Hari Kemerdekaan, dalam rangka memacu terwujudnya cita-cita kemerdekaan, yang telah diperjuangkan berpuluh-puluh tahun, dengan jiwa, raga, dan nyawa para pahlawan kita. Kini situasi telah berkembang dengan cepat, dunia semakin kompleks, tuntutan masyarakatnya semakin melebar. Oleh karenanya, marilah dalam peringatan ke-64 tahun kemerdekaan ini, kita jadikan momentum untuk terus berjuang mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan berkeadilan.

Kepada seluruh Guru, Karyawan dan Staf, dan segenap siswa-siswi SMA Budi Murni 1, marilah kita memperkokoh komitmen kebangsaan kita, meneguhkan sikap dan integritas kita sebagai bangsa. Kita jaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kaya akan suku, agama, budaya dan keanekaragamannya, serta kita pertahankan Pancasila dan UUD 1945 dari segenap ancaman dan gangguan. Dalam kaitan inilah saya mengajak seluruh komponen SMA Budi Murni 1, untuk senantiasa menghormati simbol-simbol atau lambang-lambang negara, seperti Bendera Merah Putih, dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Penghormatan ini sebagai dedikasi kita kepada bangsa dan negara, kepada pendahulu-pendahulu kita, para pejuang kemerdekaan Indonesia dan sekaligus sebagai komitmen kita bersama kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bapak-Ibu Guru, Karyawan dan Staf, serta seluruh Siswa-siswi SMA Budi Murni 1 yang saya cintai.
Perjalanan bangsa ini sejak merdeka hingga kini, senantiasa dihadapkan dalam berbagai cobaan, masih banyak kelemahan-kelemahan yang kita hadapi, antara lain, masalah kualitas, profesionalisme, disiplin, baik disiplin terhadap Tata Tertib yang kita bangun, maupun disiplin terhadap diri kita sendiri, dan lain sebagainya.

Dalam menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut, kita tidak perlu saling menyalahkan. Marilah kita secara bersama-sama, semua komponen SMA Budi Murni 1, sebagai anak-anak bangsa, berjuang untuk mengatasi semua permasalahan yang kita hadapi. Perjuangan masih panjang. Jangan kenal kata mengeluh dan menyerah. Anak-anakku yang Kelas XII perjuanganmu meraih keberhasilan menempuh ujian Nasional sudah di depan mata, tinggal menghitung hari. Dibutuhkan kerja keras dan disiplin diri yang tinggi dari diri kalian.

Maka mulai dari waktu sekarang, Ibu sangat mengharapkan keseriusan kalian belajar. Jangan terlena, karena waktu terbang melesat bagaikan anak panah. Pacu terus semangatmu.


Bagi anak-anakku Kelas X dan XI, mari mengasah semangatmu. Ingatlah peribahasa yang Ibu katakan ini “ Galilah sumur sebelum Anda merasa Haus”. Maka, persiapkan dirimu dengan sungguh-sungguh sebelum medan pertempuran yang sesungguhnya kamu hadapi.

Anak-anakku sekalian! Ibu ingin bercerita kepada kalian tentang seorang anak yang mengeluh, karena dia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.

Suatu hari dia bertanya pada Ayahnya yang pekerjaannya sebagai seorang Koki atau Juru Masak, bagaimana dia harus bertindak dan bersikap dalam menghadapi semua kesulitannya yang dia rasakan semakin berat.

Tetapi ayahnya tidak segera menjawab anaknya. Si ayah mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Panci pertama dimasukkannya wortel, ke dalam panci kedua ayahnya memasukkan telur, dan ke dalam panci ketiga ayahnya menaruh bubuk kopi.

Ayahnya membiarkannya sampai air mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di sebuah mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu sang ayah bertanya kepada si anak, :Apa yang kau lihat, nak?” Jawab si anak, “Wortel, telur dan Kopi”. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Si anak melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, anak itu mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas, menyedapkan.
Setelah itu si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”.

Lalu ayahnya menerangkan. Anakku, wortel, telur dan kopi tadi telah menghadapi kesulitan yang sama. Pada awalnya hidupnya nyaman, mereka belum, menyadari arti hidup ini. Mereka belum menyadari jika mereka ternyata dipanggang di bawah api kehidupan. Tetapi semakin lama, waktu terus berjalan, air mulai semakin panas sampai akhirnya mendidih. Tetapi apa yang kau lihat anakku, mereka bertiga ternyata memberikan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.
Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkangnya tipis melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. Dan semakin air mendidih, bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.

Anak-anakku sekalian, Ibu ingin bertanya kepada kalian, “Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu?

Bapak-Ibu Gurumu berupaya menggemblengmu selama sekolah di SMA ini dengan berbagai tingkat kesulitan tugas dan ujian-ujian, kalian sebenarnya lagi digodok di dalam kawah Candradimuka yang sedang mendidih dan panas menyakitkan. Itulah kehidupan yang sesungguhnya. Apakah kalian akan menjadi lunak? Putus asa sehingga hilang kekerasan dan kekuatan dirimu? Ibu yakin, siswa-siswi SMA Budi Murni 1 bukanlah wortel.

Apakah kamu serupa seperti telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kesulitan yang panas, menjadi keras dan kaku? Dari luar telur itu tetap kelihatan sama, tetapi di dalamnya kelembutan itu telah hilang. Yang tinggal adalah hati yang kaku dan mengeras. Ibu juga yakin, anak-anak SMA Budi Murni 1 tidaklah seperti telur, karena patah hati, kerja keras, kesulitan belajar, tak kuasa melawan panasnya gemblengan kawah candradimuka, akibatnya berubah menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku.

Anak-anak SMA Budi Murni 1, Ibu yakin adalah ibarat Kopi tadi. Kopi begitu dimasukkan ke dalam air langsung merubah air. Bubuk kopi malahan semakin merubah air panas, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Semakin airnya mendidih, kopi semakin terasa nikmat.

Maka, jika kamu seperti bubuk kopi, ketika kalian dihadapkan dengan situasi dan kondisi apapun yang semakin memburuk, semakin menyakitkan, akan semakin membuat dirimu kesakitan dan mendidih, namun......kamu akan semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga ikut membaik.

Harapan Ibu, SMA Budi Murni 1 ke depan semakin lebih berkualitas, semakin maju dan semakin jaya.



Sekian dan Terima kasih.